Wednesday, June 30, 2021

Contoh Laporan Observasi

 

LAPORAN OBSERVASI

PROSES KEGIATAN PEMBELAJARAN PAI DI KOMUNITAS ANAK PEJUANG SUBUH SAMARINDA

Laporan ini Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Metode Khusus PAI 1

Dosen Pengampu : Imroatul Musfirah, M.Pd.I


Disusun Oleh :

Muchammad Rozzaq Auwali (1911101236)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SAMARINDA

TAHUN 2021


 


KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

            Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam atas segala karunia nikmat-Nya sehingga saya dapat menyusun laporan observasi ini dengan sebaik-baiknya. Laporan observasi yang berjudul “Proses Kegiata Pembelajaran PAI di Komunitas Anak Pejuang Subuh Samarinda” disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metode Khusus PAI 1.

 

            Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu atas bimbingan dan pengarahan mata kuliah “Metode Khusus PAI 1” yang sangat bermanfaat dalam penyusunan laporan observasi ini. Besar harapan kami, laporan observasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan juga kami selaku penulis laporan observasi ini untuk memahami proses kegiatan pembelajaran PAI, saya selaku  pembuat laporan observasi ini memohon maaf atas segala kekurangan dalam laporan observasi ini.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

 

 

 

 

 

                                                                                          Samarinda, 09 April 2021

 

 

 

                                                                                                        Penulis


 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i

KATA PENGANTAR................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................... iii

 

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 4

A.    Latar Belakang Masalah....................................................................... 4

B.     Tujuan Kegiatan Observasi.................................................................. 4

C.     Manfaat Kegiatan Observasi................................................................ 4

 

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 5

A.    Profil Lembaga..................................................................................... 5

B.     Proses Kegiatan Pembelajaran PAI..................................................... 6

1.      Nama Mata Pelajaran PAI............................................................. 6

2.      Jenjang dan Jumlah......................................................................... 6

3.      Media Pembelajaran....................................................................... 7

4.      Kategori Metode Pembelajaran...................................................... 7

5.      Strategi Pembelajaran..................................................................... 7

6.      Deskripsi Kondisi Kelas Saat KBM............................................... 7

C.     Analisa Terhadap KBM....................................................................... 8

 

BAB III PENUTUP........................................................................................ 11

A.    Kesimpulan........................................................................................... 11

B.     Saran..................................................................................................... 11

 

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 12

 

LAMPIRAN................................................................................................... 13


 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

            Kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa saja dilakukan dimanapun, baik di sekolah, rumah, ataupun lingkungan masyarakat. Di lingkungan masyarakat inipun kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat terjadi baik dalam suatu komunitas, lembaga kemasyarakatan, dan lainnya.

            Tentunya dalam sebuah proses kegiatan belajar mengajar (KBM) itu banyak sekali materi-materi yang diajarkan tak terkecuali materi Pendidikan Agama Islam (PAI) baik berupa pengajaaran akhlak, Al-Qur’an, dan yang lainnya. Dan ini merupakan suatu hal yang menarik untuk di amati, bagaimana dalam sebuah lembaga itu menerapakan metode pembelajaran.

            Oleh karena itu observasi kali ini adalah mengamati suatu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang ada di lingkungan masyarakat, terkait bagaimana guru menerapkan metode pembelajaran, serta bagaimana tingkat kepahaman peserta didik dalam memahami materi yang diberikan.

 

B. Tujuan Kegiatan Observasi

            Kegiatan observasi ini bertujuan untuk melakukan suatu pengamatan terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM) di Komunitas Anak Pejuan Subuh Samarinda, dan bukan hanya itu tujuan observasi ini juga mendeskripsikan hasil observasi yang dilakukan. Hasil observasi ini juga dianalisis terkait metode pembelajaran dan materi PAI yang diterapkan dan digunakan.

 

C. Manfaat Kegiatan Observasi

            Kegiatan observasi bermanfaat untuk mengetahui metode apa saja yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran di Komunitas Anak Pejuang Subuh Samarinda serta tingkat kepahaman peserta didik dalam memahami materi yang diajarakan oleh guru.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Profil Lembaga

1.      Nama Lembaga                       : Komunitas Anak Pejuang Subuh

2.      Nama Pimpinan Lembaga      : Ahmad Zamroni

3.      Alamat Lembaga                     : Jl. Wiratama, Gg Al-isro RT 03 no 28

Kelurahan        : Sidodadi

            Kecamatan      : Samarinda Ulu

            Kota                : Samarinda

            Provinsi           : Kalimantan Timur

            Kode Pos         : -

            Telepon/Hp     : 085247651317

            Email               : anakpejuangsubuh.smd@gmail.com

4.      Mulai berdiri   : 10 Februari 2020

5.      Jenis Pendidikan/ Pengajaran : Pembinaan akidah dan akhlak anak muslim

6.      Rekening Bank : BNI no rek 0317695936 a/n Ahmad Zamroni

7.      Sejarah Berdirinya : Anak Pejuang Subuh (APS) Samarinda merupakan bagian dari Gerakan Anak Pejuang Subuh (GAPS) yang berpusat di Jakarta dengan founder sekaligus ketuanya saat ini adalah Pak Sidik. Pak Sidik adalah seorang pendongeng yang sering keliling ke beberapa daerah. Qodarullah, di awal februari, Pak sidik mendapatkan undangan untuk roadshow mendongeng ke beberapa maajid di wilayah Samarinda, salah satunya ada masjid Al-Isro. Kesempatan Pak Sidik untuk mendongeng, ia manfaatkan juga untuk sosialisasi GAPS. Ia kemudian menawarkan dan memotivasi kepada pengurus masjid Al-Isro untuk membuat program Anak Pejuang Subuh. Alhamdulillah, saat itu juga pengurus masjid Al-Isro menyetujui. seminggu kemudian diadakan rapat pembentukan pengurus APS. Kemudian tanggal 10 februari 2020 dimulailah program perdana Anak Pejuang Subuh. Pada awalnya, kegiatan setelah sholat subuh diisi dengan ceramah. seiring berjalannya waktu, kegiatan lebih dikembangkan lagi. Saat ini, selain ada ceramah, juga ada kegiatan Jum'at bersih, sedekah sampah, sedekah jelantah, berkah box, sedekah sembako, outbound, rihlah, nonton bareng dll.

 

8.      Visi dan Misi :

Visi: Mewujudkan generasi anak muslim yg taat Allah, taat Rosul SAW, berbakti kepada orangtua, serta bermanfaat bagi sekitarnya.

 

Misi:

a.       Memberikan dorongan kepada anak untuk istiqomah sholat subuh berjamaah

b.      Memotivasi anak untuk mencintai masjid

c.       Mendorong anak untuk mencintai majlis ta'lim

d.      Memberdayakan anak pada kegiatan-kegiatan sosial

 

B. Proses Kegiatan Pembelajaran PAI

1.      Nama Mata Pelajaran PAI

Mata pelajaran yang digunakan adalah akidah dan akhlak, pembelajaran Al-Qur’an dan ada juga pembelajaran bahasa seperti bahasa inggris dan bahasa arab. Untuk kurikulum yang digunakan tidak ada, akan tetapi memliki tujuan pembelajaran yaitu, mewujudkan generasi anak muslim yg taat Allah, taat Rosul SAW, berbakti kepada orangtua, serta bermanfaat bagi sekitarnya.

 

2.      Jenjang dan Jumlah

Untuk jenjang tidak ada, akan tetapi dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) ini dipisah menjadi 2 bedasarkan umur, yaitu anak usia PAUD hingga 5 SD dan 6 SD hingga SMA. Hal ini bertujuan agar materi yang di sampaikan bisa tersampaikan dengan baik sesuai dengan tingkatan mereka, karena jika dicampur maka akan takut menimbulkan ketidak pahaman terhadap murid yang usianya masih kecil.


3.      Media Pembelajaran

Media yang digunakan berbagai macam seperti media papan tulis, media gambar dan juga media slide serta menggunakan media berupa vidio. Tentunya dengan media yang berbeda-beda ini membuat peserta didik tidak jenuh dan pembelajaran akan menjadi lebih menyenangkan

 

4.      Ketegori Metode Pembelajaran

Dalam proses kegiatan pembelajaran ini ada berbagai macam metode yang digunakan seperti metode hiwar (Tanya Jawab), Metode Nasehat, Metode Ceramah dan Metode Targhib wa Tarhib. Dalam proses pembelajaran yang terjadi saya mengamati para guru ataupun pemateri menggunakan metode seperti yang diatas akan tetapi untuk metode targhib dan tarhib, kurang atau jarang digunakan dalam pembelajaran.

 

5.      Strategi Pembelajaran

Untuk strategi pembelajaran yang digunakan yaitu strategi pembelajaran kontekstual yang mana strategi ini membantu siswa mencari makna dalam materi yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Adapun strategi yang digunakan juga yaitu strategi ekspositori yang mana strategi pembelajaran ini menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal (ceramah atau diskusi) dari seorang guru kepada sekelompok siswa yang akan mengalami pembelajaran dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi.

 

6.      Deskripsi Kondisi Kelas Saat KBM

Sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung ketua dari komunitas pejuang subuh samarinda ini yaitu Ahmad Zamroni memberikan yel-yel semngat anak pejuang subuh, hal ini dilakukan agar melihat kesiapan mereka dalam menerima materi yang disampaikan oleh pemateri. Kondisi kelas saat kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai sangat tenang dan peserta didik fokus terhadap materi yang disampaikan, walaupun ada beberapa anak yang kurang fokus karena mungkin masih merasa ngantuk, hal ini dimaklumi, karena menurut saya sendiri walaupun dalam keadaan apapun mereka tetap semangat dalam melaksanakan sholat subuh berjamaah sekaligus semangat dalam mencari ilmu. Kondisi akan sangat menyenangkan sekali apabila pemateri dapat memahami dan memberikan gairah semnagat kepada peserta didik, jadi menurut saya ini kembali lagi kepada pendidik atau pemberi materi dalam melakukan metode dan strategi pembelajaran yang digunakannya.

 

C. Analissa Terhadap KBM

            Menurut analisa saya di dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di komunitas anak pejuang subuh ini sangat meyenangkan, karena metode pembelajaran yang digunakan tidak monoton hanya satu saja dan juga media yang digunakan berbagai macam jenisnya, hal inilah yang membuat peserta didik dapat belajar dengan sangat tenang dan menyenangkan dan menikmati proses kegiatan belajar mengajar tersebut seperti yang kita ketahui bersama metode hiwar itu adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topic yang mengarah pada suatu tujuan.[1]

            Metode hiwar ini sering digunakan oleh pemateri dalam proses pembelajaran, karena dirasa efektif apakah peserta didik memahami materi yang disampaikan atau kurang memahami. Adapun matode nasihat adalah suatu metode yang digunakan untuk meIuIuhkan hati seseorang terhadap sesuatu. Metode  pendidikan  dengan  nasehat  memiIiki  pengaruh  yang  cukup  besar daIam membuka mata anak-anak serta kesadaran akan hakekat sesuatu, mendorong mereka menuju harkat dan martabat yang Iuhur, menghiasinya dengan akhIak yang muIia, serta membekaIinya dengan prinsip-prinsip IsIam.[2] Metode ini menurut saya cocok apabila digunakan ketika seorang peserta didik berhadapan dengan guru langsung artinya hanya ada 1 peserta didik dengan gurunya, karena menurut saya lebih efektif dalam mencapai tujuan yang diinginkan, dan kelemahan dalam metode ini menurut saya apabila dilakukan dengan banyak peserta didik maka akan sulitdan kurang dimengerti selain itu juga setelah menasehati guru juga menerapkan agar peserta didik terbiasa  dan tujuannya dapat tercapai.

            Lalu ada metode ceramah yang man ini umum digunakan oleh pendidik karena menurut rata-rata pendidik metode ceramah ini efektif dalam pemberian suatu materi, akan tetapi setelah saya mengamati bahwa kekurang dalam pelaksanaan metode ini adalah guru yang cenderung monoton tanpa diberi hal-hal yang lucu yang dapat menarik fokus kembali peserta didik, oleh karena itu pendidik harus pintar dalam menerapkan metode ini agar metodenya berjalan dengan lancar. Untuk kelebihan sendiri dengan metode ceramah ini cukup simple digunakan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran akan tetapi tingkat pemahaman peserta didik diukur dari pendidik seberapa baiknya peserta didik ini dalam menguasai metode ini. karena yang saya amati peserta didik ada yang paham dan kurang paham, karena kurangnya tingkat fokus mereka terhadap guru atau pemateri yang menyampaikan materi. Untuk pendidik harus bisa memahami dan menarik fokus kembali peserta didik dengan cara memberikan hal-hal lucu atau lainnya.

            Metode targhib dan tarhib, menurut Samsul Uhun dalam hasil karyanya “Tarbiyah Quraniyyah” bahwa Targhib merupakan suatu alat pendidikan yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau menjadi motivasi belajar bagi siswa. Targhib merupakan sebuah hadiah atau suatu ganjaran terhadap perilaku baik siswa atau peserta didik dalam proses pembelajaran. Sedangkan tarhib memilki arti yaitu memunculkan perasaan takut yang kuat terhadap lawannya. Metode tarhib merupakan penggunaan sebuah ancaman yang bisa menimbulkan suatu ketakutan secara mendalam terhadap orang yang diberi ancaman. Suyanto mengatakan bahwa metode tarhib ini merupakan sebuah ancaman kepada siswa atau peserta didik jika ia melakukan sebuah tindakan yang melanggar atau menyalahi aturan yang ada. Dalam istilah Al-Qur’an disebut dengan  iqab (hukuman).[3]

            Hasil saya mengamati ada beberapa pemateri atau pendidik yang menggunakan metode ini akan tetpai lebih cenderung ke targhib atau pemberian suatu hadiah. Yang mana menurut saya ini merupakan metode yang menyenangkan karena dapat memacu atau memberi semangat peserta didik dalam proses pembelajaran. Waktu saya observasi saya diberikan kesempatan untuk mengisi materi di komunitas tersebut, dan saya menerapkan metode ceram dan sekaligus metode targhib yang mana pada saat sebelum saya memberikan materi saya menjelaskan bahwa saya akan memberikan hadiah kepada peserta didik verupa uang apabila dapat menjawab pertayaan saya diakhir.

            Menurut saya metode yang saya gunakan waktu itu lancar dan berjalan sukses yang mana peserta didik berebutan dalam menjawab pertanyaan yang saya berikan, hal ini berarti peserta didik paham dengan apa yang saya berikan jadi menurut saya keunggulannya adalah dapat meningkatkan fokus dan memacu semangat dan motivasi peserta didik dalam belajar. Akan tetapi kekurangnnya adalah masih ada beberpa peserta didik yang kurang paham terkait materi hal inilah yang perlu saya evaluasi agar materi yang saya berikan bisa dipahami oleh peserta didik. Metode tarhib ini juga sebagai bentuk kita bershodaqah dan berbuat baik kepada peserta didik sebagaimana firman Allah tentang metode tarhib ini

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya : (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (QS.Ali-Imran Ayat 134)


 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

            Jadi dalam kegiatan observasi kali ini yang saya lakukan dapat disimpulkan bahwa sebuat metode pembelajaran itu akan sangat efektif apabila tidak monoton, artinya harus dipadukan dengan metode lain. Jika kita hanya fokus terhadap satu metode saja maka kekurangan dalam metode itu tidak bisa ditutupi, oleh karena itu perlu adanya perpaduan antara metode satu dengan yang lainnya agar dapat menutupi kekurangan dalam metode yang lain sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan yang di inginkan.

            Seorang guru juga harus dapat menerapkan metode pmebelajaran yang diinginkan dan juga membuat suasana dalam kegiatan pembelajaran itu menyenangkan, jika guru kurang bisa membuat suasana menyenangkan maka peseta didik akan cenderung jenuh dan kurang fokus. Oleh karena itu guru sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

 

B. Saran

            Saran saya untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) di komunitas anak pejuang subuh ini guru dapat membuat suasana pembelajaran menjadi semenarik mungkin agar peserta didik dapat terus fokus terhadap materi yang disampaikan sehingga peserta didik yan tadinya mengantuk atau kurang konsentrasi dapat hilang rasa ngantuknya dan lebih konsentrasi sehingga mereka mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari pemateri atau pendidik.


 

DAFTAR PUSTKA

 

Anggraini, Fina Surya. “Targhib wa tarhib perspektif Al-Qur’an”, dalam jurnal

inovatif  edisi no.1, Vol.IV, 2018

Eifa, Yuliana. “Konsep Pendidikan Anak daIam AI-Qur’an Dan Hadist” daIam

JurnaI AI-Irfani STAI DaruI KamaI NW Kembang kerrang, edisi no. 1, VoI. II,  2018.

Syaiful Bahri Djamarah, dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta:

Rineka Cipta, 2010.


 

LAMPIRAN

 














[1] Syaiful Bahri Djamarah, et.al, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 94.

[2] YuIiana EIfa “Konsep Pendidikan Anak daIam AI-Qur’an Dan Hadist” daIam JurnaI AI-Irfani STAI DaruI KamaI NW Kembang kerrang, edisi no. 1, VoI. II, 2018.

Wednesday, May 20, 2020

Nama-nama sahabat Nabi yang ikut dalam perang badar

Nama-nama sahabat Nabi dalam PERANG BADAR

ingatkah Anda? 17 Romadhon adalah peristiwa besar dalam islam, yaitu "Perang Badar".

Berikut nama2 Sahabat yangg ikut PERANG BADAR bersama Baginda Nabi Muhammad SAW :

1. Sayyiduna Muhammad Rosululloh s.a.w.
2. Abu Bakr ash-Shiddiq r.a.
3. 'Umar bin Khoththob r.a.
4. 'Utsman bin 'Affan r.a.
5. 'Ali bin Abi Tholib r.a.
6. Tholhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Robbah r.a.
8. Hamzah bin 'Abdul Muththolib r.a.
9. 'Abdulloh bin Jahsyi r.a.
10. Zubair bin Awwam r.a.
11. Mus’ab bin 'Umair bin Hasyim r.a.
12. 'Abdurrohman bin ‘Auf r.a.
13. 'Abdulloh bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqos r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Husain bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
22. Tufail bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin 'Abdul Muththolib r.a.
24. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Robi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Hudzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Robi’ah bin Aksam r.a.
36. Thoqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Robi’ah r.a.
48. Zus Syimalain 'Amru bin 'Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin 'Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin Khoththob r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. 'Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula 'Umar bin Khoththob) r.a.
62. Waqid bin 'Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. 'Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Utsman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. 'Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harits r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. 'Abdullah bin Makhramah r.a.
78. 'Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. 'Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harits r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harits bin Aus r.a.
91. Al-Harits bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Tsabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harits bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. 'Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. 'Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harits bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. 'Abdullah bin Thoriq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. 'Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tsa’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Tsabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tsa’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. 'Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Tsabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Tsabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Tsabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Tsabit r.a.
138. Al-Harits bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tsa’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. 'Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tsa’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. 'Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harits bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. 'Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tsa’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. 'Abdullah bin 'Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. 'Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. 'Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. 'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin 'Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin 'Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tsa’labah r.a.
178. Tsabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tsa’labah bin Khazamah r.a.
186. 'Abdullah bin Tsa’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. 'Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. 'Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Mu'adz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Tsabit bin al-Jiz’i r.a.
209. 'Umair bin al-Harits bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. 'Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin 'Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. 'Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. 'Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Haritsah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. 'Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. 'Abdullah bin 'Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin 'Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Mu'adz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harits bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Utsman r.a.
242. ‘Uqbah bin Utsman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Mu'adz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Anshori r.a.
260. Tsabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin 'Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harits bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. 'Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Tsabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tsa’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harits bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Tsabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Tsabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Tsabit r.a.
285. Haritsah bin Suraqah bin al-Harits r.a.
286. Amru bin Tsa’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Tsabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harits bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. 'Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tsa’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harits bin Tsa’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin 'Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Tuesday, May 19, 2020

KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

Malaikat Jibril :
”Wahai Rasulullah.. Barang siapa yang membaca shalawat kepadamu tiap tiap hari sebanyak sepuluh kali maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa dia melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”.

Malaikat Mikail :
”Ya Rasulullah..mereka yang bersholawat kepadamu akan aku beri mereka itu minuman dari telagamu(telaga Kautsar)".

Malaikat Isrofil :
”Mereka yang bershalawat kepadamu..aku akan sujud kepada ALLAH dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga ALLAH mengampuni Seluruh dosa2 orang itu (orang yang bershalawat)”.

  Malaikat Izrail :
”Ya Rasulallah..Bagi mereka yang bershalawat kepadamu..akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh pada Nabi Nabi”.

Kitab Kifayatul Atqiya.


Syahdan, diceritakan tentang seorang perempuan datang kepada Hasan Al Basri kemudian berkata, “Sesungguhnya aku memiliki seorang anak gadis yang telah meninggal,aku begitu ingin melihatnya dalam mimpi.

Maka aku datang kepadamu agar engkau mengajarkan kepadaku bagaimana aku bisa melihatnya.” Maka Imam Hasan Al Basri pun mengajarkannya Suatu amalan sehingga ia dapat melihat anaknya dalam mimpinya.

Betapa terkejut perempuan tersebut ketika ia melihat anaknya dalam keadaan diadzab/disiksa, lehernya dibelenggu, kakinya diikat. Dengan hati penuh kesedihan ia pun memberitahukan apa yang ia lihat kepada Imam Hasan Al Basri, dan beliaupun turut sedih mendengarnya.

Selang beberapa lama, Imam Hasan Al Basri melihat dalam mimpi beliau, gadis tersebut telah berada di dalam surga duduk diatas tahta dan memakai mahkota. Si gadis pun berkata,”Wahai Imam Hasan Al Basri, tidakkah engkau mengenaliku? Aku adalah anak dari perempuan yang datang kepadamu”.

Imam Hasan Al Bisri pun terkejut dan bertanya, ”Apa yang membuatmu menjadi seperti yang aku lihat sekarang ?”Gadis itupun menjawab,”Ada seseorang laki-laki melewati pekuburan yang mana aku jg dikuburkan disitu, kemudian ia bersholawat kepada Nabi sekali.

Ketika itu, di pekuburan itu ada 550 orang yang sedang diadzab termasuk aku diantara nya. Lalu terdengarlah seruan, “Angkat siksa mereka dengan berkat shalawatnya laki-laki ini!!” Berkat shalawat itulah para ahli kubur itu pun mendapatkan ampunan ALLAH.

Kitab Mukasyafatul Qulub- Imam Abu Hamid Al Ghozal

Thursday, January 23, 2020

Kata kata Para ULAMA

Orang yang hebat adalah,
orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kesusahan,
sehingga orang lain mengira bahwa ia selalu senang.

IMAM SYAFI'I )

Bukan tugasmu untuk memberikan kebahagiaan kepada semua orang,
tetapi tugasmu ialah tidak menyakiti satu orang pun.

( HABIB ALI ZAINAL ABIDIN AL KAFF )

Terkumpulnya keburukan dalam diri kita,
banyak disebabkan oleh seringnya kita memandang sisi buruk orang lain,
pandanglah selalu orang lain dari sisi baiknya,
maka kebaikkan akan terkumpul pada diri kita.

( HABIB ALI AL-JUFRI )

Kesalahan yang banyak kita lakukan adalah,
banyak menunda beramal, menunda bersyukur, menunda minta maaf
seakan-akan kita akan hidup selamanya.

( HABIB MUHAMMAD AL-BAGIR BIN ALWY BIN YAHYA )

Nasihat itu pahit bagi mereka yang mencintai hawa nafsu,
tetapi orang yang dihatinya dipenuhi dengan nur (cahaya),
ia akan berterima kasih apabila nasihat diberikan kepadanya.

( HABIB KADZIM BIN JA'FAR ASSEGAF )

Katakataku

1
Orang baik bukanlah orang yang tidak berbuat salah,
tetapi orang baik adalah
orang yang mengakui kesalahannya dan memperbaikinya.

2
Jika engkau dalam kesedihan,
ingatlah kesedihanmu tidaklah abadi,
dan jika engkau dalam kenikmatan,
maka lekas sadarlah bahwa kenikmatanmu tidaklah kekal.

3
Jika engkau dikecewakan oleh seseorang,
maka jangan salahkan orang yang telah mengecewakanmu,
tetapi salahkan dirimu sendiri,
karena terlalu banyak berharap kepadanya.

4
Kekayaan dan kemiskinan adalah sebuah dua macam kendaraan,
aku tidak peduli kendaraan mana yang akan aku naiki,
jika ia kemiskinan, maka aku akan bersabar dan berusaha
dan jika ia kekayaan, maka aku akan bersyukur dan bersedekah.

5
Jika dirimu belum mampu bersaing dengan orang-orang sholeh dalam amalnya,
maka bersainglah dengan para pendosa dalam tobat dan istigfarnya.